Saturday, June 23, 2012

R.I.N.D.U

Hentikan mengira-ngira,

Aku tidak terlahir dari rahim-mu, dari pertukaran zat-zat kimiawi dalam tubuhmu atau siapapun... juga bukan dari sejarah klise Adam dan Hawa-mu.

Aku kau ciptakan dari pikiranmu, muncul dalam kotak kecil berwarna kelabu yang memberi asap dalam hatimu, mampu membuatmu sekarat dalam sesak.

Jika aku mucul, tawamu bisa hilang, pandanganmu mengabur dalam keramaian, dan kau akan berpikir untuk menghilang, karena aku akan menggerogoti tubuhmu hingga kau meletih dan hampa...

Jika aku muncul, kau akan membenci waktu, karena mendadak bagimu... bumi lambat berputar dan ada tiupan angin dingin yang mulai membekukan hatimu.

Jika aku muncul dan bertahan lama, maka lambat laun akan pecah tangismu dan kau merasa menjadi lumpuh...kau bisa berpikir untuk mati.


Ya, aku sesuatu yang ilahi

Aku tak bisa kau sentuh
Aku tak bisa kau cegah
Aku tak bisa kau bunuh
Namun aku mampu mengontrol seluruh jalan pikiranmu
Dan kau tak bisa berdiskusi dengan kemauanku...


Namaku adalah rindu.
Aku mampu hidup ribuan tahun selama kau ada.
Dan satu yang bisa membinasakan aku, hanyalah "ujung penantian".


- created by dc, 23.06.2012 -

Tuesday, February 28, 2012

Garuda Tanpa Sayap



"Jika orang bermimpi dianggap parodi, maka habislah masa depan sepak bola kita"


Cukup terhenyak rasanya ketika timnas baru-baru ini mengalami kekalahan dan saya membaca komentar seseorang dengan lantang mengatakan, "mamppoooossss!!!" Saat membaca itu saya seketika bingung - TOTAL! Bagaimana mungkin seorang yang mengaku suporter merah-putih mengatakan hal yang demikian menyakitkan (bagi pemain jika tertiup hingga ke daun telinga mereka)? Bagaimana mungkin rasa sentimen terhadap politik sepak bola harus berimbas kepada anak-anak yang telah bermain setengah mati selama 90 menit dengan mengemban lambang Garuda di dada, terlepas dari hasil buruk yang mereka raih? Kasus suporter Inggris menghujat timnas-nya ketika tim mereka terus menerus didera kekalahan nyaris sama dengan kasus ini. Tetapi bedanya, mereka melemparkan hujatan karena geram tim pujaan mereka kalah, bukan malah MENSYUKURI kekalahan tim-nya. Dua hal yang jelas berbeda.

Ngenesnya, kata-kata "mampus" itu entah bagaimana memang terbaca oleh seseorang pemain lain (yang saat itu tidak berada di lapangan) yang kemudian emosinya meluap dan mengeluarkan kata-kata bermaksud pembelaan yang tidak kalah parau, "suruh aja mereka yang main di lapangan!!!". Kata-kata bernada emosional ini jelas tidak baik diucapkan, namun kemudian terlontar begitu saja bersamaan dengan semangat yang kemudian menurun drastis untuk membela bangsa.

Seperti jutaan kali saya katakan, terlepas dari dualisme liga yang melarang pemain dari liga yang tidak diakui FIFA untuk bermain bagi timnas, siapapun yang menggunakan seragam berlambang Garuda adalah personil yang namanya pantas kalian teriakkan lantang di dalam stadion. Mengapa? Karena jerit suporter adalah cambukan semangat bagi mereka. Karena kepercayaan diri mereka meningkat berkat dukungan. Karena usaha mereka akan berlipat ganda berkat gemuruh di stadion. Memang kita belum meraih trophy bergengsi meski GBK belakangan sering penuh, namun saya optimis akan ada era kebangkitan jika kita memulai memompa semangat pemain muda dari sejak dini. Jelas untuk itu, optimisme suporter yang biasanya berbaris di belakang mereka menjadi harga mati. Sayang bukan itu yang sekarang sedang terjadi.

Ada yang mengatakan, "saya tidak dukung karena pemainnya bukan dari ISL, di sana kan ladang pemain bagus?!" Kata-kata seperti ini adalah murni ungkapan jujur pecinta sepak bola nasional. Tidak bisa ditentang karena itu merupakan buah pemikiran pribadi. Saya pribadi suka menyaksikan gaya bermain banyak pemain di sana. Tapi apa lantas saya harus mogok membela timnas dengan materi-materi baru? NO. Dari dulu pun saya sudah menyaksikan pertandingan timnas meski dipimpin oleh musuh bersama saat itu, Nurdin Halid dan tidak lantas memusuhi timnas meski saat-saat itu kondisi politik sepak bola juga kacau. Eksperimen usia dini harus terus dilakukan untuk menemukan tim masa depan yang tangguh. Sayangnya sayap para pemain muda ini susah mengepak lebar menuju angkasa akibat masih belajar terbang, sudah harus dilukai massa.


Lalu kemudian ada yang meneriakkan bahwa pemain ISL merupakan korban politik. Jujur, saya cukup sependapat dengan hal itu. Tapi, pfffttt.... Tahukah kalian bahwa yang benar-benar menjadi korban politik terparah saat ini justru seluruh pemain yang tengah berjuang atas nama timnas?

Ketika daun-daun muda ini mendengar adanya seleksi, nyaris seluruh pemain datang dengan semangat 45 menuju lokasi seleksi. Dengan harapan tinggi dan semangat membuncah, mereka menjalani beberapa kali sesi latih tanding untuk unjuk kemampuan. Meski seleksi harus dengan fasilitas susah-payah terlebih dahulu, mereka enggan mengeluh demi impian memasuki skuat tim nasional.

Tahukah kalian, bahkan ada yang nekad sakit-sakit datang menuju lokasi latihan selagi ada panggilan? Ada yang memaksakan diri datang dengan ongkos seadanya? Ada yang takut menaiki pesawat namun memberanikan diri demi timnas? Ada yang bahkan meski belum mendapat persetujuan atasan sudah berangkat dengan biaya sendiri? Ada yang bahkan hingga lupa bawa koper? Kenapa? Jarang ada kesempatan bagi mereka untuk bisa terpilih masuk seleksi timnas. Selagi pintu itu terbuka lebar, usaha hidup-mati pun mereka lakukan. Wajah-wajah polos anak kecil yang menyimpan tekad untuk mengharumkan nama bangsa ini.... wajah-wajah yang masih menyimpan optimisme dengan mata berbinar ini.... wajah penuh impian itu berubah menjadi haru biru ketika nama mereka disebut memasuki timnas. Modal impian membuat tubuh mereka bergetar ketika disodorkan seragam kebanggan timnas, merah-putih. Sayang, anak-anak tidak bersalah ini ternyata berangkat minus suara dukungan banyak suporter (tidak semua namun cukup banyak). Ternyata yang mengaku suporter garis keras pun bisa melontarkan kata-kata mogok bahkan menghujat anak-anak ini. Sangat menyedihkan.

Ketika kondisi sudah seperti ini, maka... bung, kondisi sepak bola kita sudah jauh dari kronis. Sepak bola itu sendiri sudah mati karena terlalu rusak dari lapisan atas hingga bawah. Jika impian sudah tidak ada atau orang bermimpi dianggap parodi, maka habislah masa depan sepak bola kita.
Anda boleh memprotes masalah pemilihan materi pemain timnas, TETAPI bukan lantas berujung mogok sama sekali membela timnas terpilih. Mereka tidak bersalah sama sekali. Berikan kritik pada jalurnya, namun bukan menebas semangat skuat yang bermain di lapangan atas nama negara, kalah ataupun menang. Tidak perlu terbawa arus politik. Jika Anda membenci peraturan yang baru, jangan menampar orang yang menjalani aturan baru itu.

Biarkan bibit-bibit muda menegakkan kepala. Berikan jalan bagi mereka untuk menempa pengalaman bertanding. Berikan kesempatan bagi mereka untuk menyimpan binar di mata sebagai pengemban lambang Garuda. Mengenai problema politik yang melumpuhkan semangat terhadap sepak bola nasional sendiri, jangan lampiaskan kepada skuat muda ini. Mereka bisa saja menjadi pahlawan lapangan hijau di masa mendatang, datang dari lumpur politik. Sejenak, sampingkan permasalahan politik yang menyebalkan, mari mengangkat segelas kopi hitam, ikat tali sepatu Anda, gunakan atribut merah-putih loakan Anda, coretlah wajah dengan lambang bendera merah-putih, berangkat, dan berteriaklah selantang mungkin untuk membangkitkan impian kita dari awal sekali lagi. Suatu saat, toh permasalahan politik ini akan berakhir. Suatu saat, toh semua pemain berhak mendapat tempat di timnas. Suatu saat, toh kita akan mengangkat trofi juara. Hanya tinggal menunggu sang waktu... Seperti ucapan Henry Miller, "Back of every creation, supporting it like an arch, is faith. Enthusiasm is nothing: it comes and goes. But if one believes, then miracles occur". Cheers! :D


~DC~

Tuesday, November 22, 2011

Sekumpulan Orang Bodoh

Berikut adalah sekumpulan cerita fiksi. Ingat, FIKSI. SIlahkan menikmati. :)




Di suatu ruangan tertutup berukuran 10x10, empat orang pria berkerah putih berusia paruh baya tengah duduk dalam posisi melingkar. Di tangan masing-masing terdapat sebatang rokok yang sudah setengah terhisap. Hampir dalam setiap gerakan tiga diantara mereka serentak. Si bos berbicara, ketiga lainnya mengepul asap rokok. Giliran salah satu dari ketiga yang mirip cecurut berbicara, si bos menghisap rokok dalam-dalam dan dua lainnya saling menyokong satu cecurut yang asyik bercerita kepada si bos.

Si bos angkat tangan dengan gaya bak ditaktor, dan membuka mulut ketika ketiga cecurut mulai hening. "Bilang ke si...aduh, siapa namanya itu saya lupa..yang pernah ngurus Bandung dan Malang itu. Bilang, jangan berani dia nantang kita kalau masih kasih makan anak-istrinya. Mau mati dia? Kalau dia gak segera merapat ke kita, nanti daftar hitam-nya kita sebar aja ke wartawan, iya nggak?"

Tiga cecurut tertawa. Satu yang baru mengepul asap rokok dengan postur tubuh membungkuk menimpali. "Bos, dia itu tinggal tunggu waktu itu bos. Biar aja dia sekarang panas punggungnya. Tahulah dia itu kalau kita lagi ngedip-ngedip ke dia. Yang jadi masalah kan mereka di timur bos!"

Si bos mengangkat alis mengejek namun masih berbicara dengan intonasi rendah. "Ah, kau sibuk kali dengan si siapa-siapa itu dari timur. Susah rupanya kau tambah isi amplop mereka? Bilang aja itu upeti dari aku. Mana berani mereka nolak?!"

Cecurut kedua yang berkaca mata mencari celah berbicara. "Bos, bagaimana dengan kas? Kita sudah terlalu banyak menghabiskan dana dengan 'jamuan', gaji sebagian anak-anak kita belum terbayar. Gawat kalau wartawan mencium keadaan ini. Kita pakai bantuan parpol?"

Si bos tertawa terkekeh hingga terbatuk sendiri menelan asap rokok yang masih hinggap di mulutnya. "Kau ini masih kaku sekali! Ambil aja itu yang dari sponsor dan penonton. Kalau masih kurang, seret aja yang nakal-nakal di lapangan kesini. Kasih denda mereka biar ada dana kita untuk lempar-lempar amplop itu nanti di acara pesta besar."

"Benar bos! Justru yang jadi masalah sekarang sistem kita yang belum dapat tanda tangan bos yang di negara sebelah. Jawab apa kita ke masyarakat?" tanya cecurut ketiga kepada si bos.

"Bah! Tak bisa kau main tiki-taka rupanya yah?! Hepeng mangatur nagaraon! Kau atur lah itu! Suruh si adik juga segera pikirkan apa saja yang bisa diurus secepatnya! Yang penting jalan otak kita di mata masyarakat! Nanti kau gelar itu konpers, kan ada satu dua yang bisa kau belai-belai itu untuk bantu kita?!"

Ketiga cecurut memilih manggut-manggut dan ikut tertawa seolah memberi respons positif kepada si bos. Lalu sekitar 20 menit setelahnya dan ketika asbak di meja bundar telah penuh berisi puntung rokok mereka, si bos keluar disambut sang ajudan, lalu menaiki mobil mewahnya. Semengara tiga cecurut mengikuti di belakang, angkat kaki menuju mobil masing-masing dan segera sibuk dengan aktivitas ponsel-nya.

Setelah bepisah,cecurut 1 menelpon pihak timur dan meminta 50 persen jatah upeti yang telah dinaikkan si bos. Cecurut 2 menelpon istrinya yang tengah memilih rumah baru dan mulai mencari cara menggelapkan dana sponsor. Cecurut 3 asyik menelpon pesaing politik si bos dan melaporkan segalanya untuk siap kudeta. Sementara si bos bertemu perwakilan parpol A untuk berbicara soal strategi pemilu.


============================

Sementara di sebuah ruang ganti lusuh dan juga nyaris berlumut, dua orang sahabat baik duduk bersama setelah menjalani aktivitas penuh keringat. Si Yoyo duduk di bangku reyok sambil berusaha memakai kembali kaos kaki yang baru dilepasnya sebelum sholat. Sementara si Anto tengah mengenakan kembali gelang hitam di tangan kirinya yang baru dilepas setelah mandi.

"Bini ama pacar gue sama-sama ngamuk nih minta jatah. Gawat gue! Udah tiga bulan gaji gak turun-turun juga! Kacau nih manajemen. Emang kita bisa makan rumput?! Gimana anak gue?!" ujar si Anto dengan nada tinggi.

Yoyo tetap khusyuk dengan kaos kaki bolongnya. "Sama, to! Bini gue juga nagih uang sekolah anak-anak gue. Lah, gue cedera aja belon bisa terapi karena belon ada duit! Pusing nih gue!"

Anto memandang Yoyo seolah itu permasalahan menjengkelkan tetapi sudah menjadi tradisi bagi mereka berdua. "Gini terus gue jadi susah 'jajan' nih kalo bini gue lagi gak ada. Kacau. Mana mau pindah tempat takut fans kita ngehajar gue di jalan!"

Keduanya kemudian menghela nafas dan tenggelam dalam keheningan. Setelah selesai mengganti baju, keduanya lalu keluar ruangan itu dan berpisah. Anto menaiki mobil ratusan juta rupiah miliknya. Namun sebelum melewati Yoyo, ia menurunkan jendela mobil dan berbicara kepada Yoyo, "Minggu ini gue males. Gini mulu gue pura-pura masalah lutut aja lah!"

Sementara Yoyo di motor sederhana-nya merenung. Lalu menatap amplop tebal di dalam tas-nya. Ia teringat amanat yang disampaikan pihak yang menyerahkan amplop, "minggu nanti jangan menang, saya sudah pasang tinggi. Nanti saya tambah jatah kamu kalau kamu bersedia buat tim kamu kalah dari tim saya." Lalu Yoyo melesat dengan mata nanar mengingat keluarganya yang tengah membutuhkan uang.

==========================

Di sebuah warteg sederhana berkumpul sejumlah orang dengan penampilan sedikit dekil namun memiliki satu-dua atribut dengan warna yang sama. Mereka asyik mengumpat pahlawan-pahlawan mereka yang baru saja kalah. Sambil menikmati makanan di depan mereka, mereka menyemburkan makian kebun binatang di sana tanpa sikap sungkan kepada si mbah pemilik warteg. Sementara di sudut, anak berusia 9 tahun dengan kepala plontos menyemburkan asap rokok murahan dan berbicara dengan suara keras terhadap temannya yang sedang asyik makan.

"Kalah udah biasa! Mereka mental tempe! Anjing semua! Saking keselnya, gue lempar aja tadi tribun bawah dengan botol air kencing gue! Biar tau rasa semua tuh orang-orang seberang!" ujarnya dengan bangga.

Yang lain tertawa mendengar si anak yang sedang merokok. "Gue tadi saking kesalnya hampir lempar batu tuh wasit ama tadi anak seberang yang teriak pas mereka menang. Pengen gue buat berdarah-darah! Setan!" timpal anak yang sedang makan nasi dan mendoan.

Seorang anak lainnya yang kira-kira 5 tahun lebih tua tak kalah garang. "Kepret emang semua tuh! Gue udah selalu dukung tapi gak ada hasil! Besok kita demo aja pengurus! Apapun itu mereka yang salah!"

"Kita demo pake substansi apa?" tanya seorang lainnya yang mengenakan kacamata dan pakaian lebih bersih.

"Halah, teriak aja maki-maki mereka! Apapun yang pengurus kerjain gak pernah bener! Pokoknya apapun dari mereka, kita salahin aja! Gak usah sok-sok dalamin pokok permasalahan atau peraturan monyet apapun! Mereka udah gagal! Yang penting pengurus suruh mundur semua! Tai!!!"

Setelah lama mencurahkan kemarahan di warteg kecil berbau asap itu, kumpulan anak-anak yang masih usia sekolahan itu mencegat sebuah truk bak terbuka, bergantian memanjatnya hingga menimbulkan kemacetan di tengah jalan, lalu berteriak-teriak di atas truk dengan yel-yel khas mereka.


--tamat---


*by: desyc*

Friday, October 1, 2010

Parodi #Random

(Ketika Egosentrisme Mengawini Ruang Gelap Publik)



Siluet: "Apa #random-nya bercerita tentangku? Ia sedang menyindirku?"


....hening.....


Siluet: "Iya, ia pasti sedang menamparku dengan seluruh isi #random tajam-nya itu kan?"




Sosok nyata: (tersenyum sinis) "Tidak, ia hanya sedang membebaskan belenggu otaknya. Itu tentang sesuatu..."


Siluet: "Bukan, itu tentangku. Pasti. Mungkin. Ah, tidak.....pasti!"


Sosok nyata: "...kau dan pikiran paranoidmu..."


Siluet: "Aku tidak sedang berkhayal. #Random itu jelas ditujukan untuk menusuk diriku. Kisahnya persis. Nyata. Tentangku. Ia tahu. Ia pasti tahu."


....hening....




Sosok nyata: "Pernahkah kau berpikir, bahwa dunia mungkin tidak berputar dengan dirimu sebagai porosnya? Mungkin ia tidak sedang menulis tentangmu... Cobalah bersikap lebih tenang. Entah kenapa kau menuduh seluruh #random mereka dibuat untuk menyilet-mu. Betapa egosentrisnya dirimu."


....hening....


Siluet: (menggumam dalam diri sendiri) "Brengsek! Jelas ia sedang mengejek aku. Jelas ia tengah membuatku sebagai bulan-bulanan-nya."



....hening....


....lewat sehari....


....lewat dua hari....


....lewat seminggu....




Dan "siluet" pun menutup account-nya.







Note: tolong jangan tersinggung.. :p

Saturday, August 7, 2010

A Broken Heart Note




"Some day you'll cry for me like I cried for you... Some day you'll miss me like I missed you... Some day you'll need me like I needed you... Some day you'll love me but I won't love you..."

--by anonymous--

Thursday, July 22, 2010

NOL

---by desyc ---

Tik...tik...

Denting jarum jam berpadu dengan deru jantung
Pikiranku luruh, mulai tak sewaras semenit lalu

Aku melebur dalam kegelapan
Terdiam kaku ditemani senandung burung hantu
Tubuhku telanjang
dan syaraf tubuhku bergerak menghantam ketenanganku

Tik...tik...

Pukul 00:00

Senyum tercipta di sudut bibirku
Bola mataku bergerak liar, penuh percaya diri

Aku mulai membangun dirimu dengan unsur waktu
Melewati dimensi mimpimu
Membaca isi pikiranmu
Melihatmu, membacamu, menelanjangimu
Kau yang kemarin, saat ini, dan esok

Kuselami memori otakmu
Kubongkar misterimu
Kulahap rahasia hidupmu
Hanya dengan menyusuri kumpulan benang yang terbungkus kusut dalam alam tak sadarmu
Perlahan..... mengesap setiap jengkal di dalamnya
Lalu aku membawanya pulang melewati dimensi mimpimu
Rapi dan teratur

Kau tak tahu
Kau takkan pernah tahu
Pikirmu kau telah nyenyak terlelap

Tik....tik...

Lepas pukul 00:00

Kau retak...
Aku bergerak mundur
Menatapmu melebur dengan waktu
Lalu menghilang bagai abu yang tersantap semilir angin
Tak berbekas
Lenyap

Tik...tik...

Aku kembali tersenyum
Dan kecamuk pikiranku berhenti sejenak
Genggaman tanganku merenggang
Ada sejumput informasi berharga yang kudapat darimu
Yang juga kerap kurampas dari mereka
Satu per satu

Tik...tik...

Kulepas sihir itu...yang entah datang dari malaikat atau iblis-ku
Lalu bergulung di tempat tidurku
Letih, dengan sedikit sakit menggerogoti kepalaku
dan setetes darah mengalir dari hidungku

Meski begitu, aku menikmati hembusan nafas legaku

Itu 60 detik berharga dalam diriku
Tak perlu yang lain tahu...

Friday, July 16, 2010

My Own Sunset





Note : I love the beach sooooo muuucchhh....and i'm a sunset lover...(I sound romantic, i know - but i know you do too!) One day, I'll have my own sunset. *fingers crossed*