Sunday, July 19, 2015

Mari Berbicara Seputar Tuhan


Perhatikan gambar di atas baik-baik.

Dua hari lalu saya mengambil gambar ini di internet, dan memposting foto tersebut sebagai pertanda ucapan selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman Path (social media) saya. Alasannya, saya pikir gambar ini keren luar biasa dan bahwa sosok Yesus sangat keren dengan sikap toleransi-Nya (meski secara historis tidak terbukti itu adalah wajah Yesus, saya mengakui itu sudah menjadi lambang universal wajah sang mesias). Dengan dasar pemikiran bahwa dalam foto tersebut Tuhan Yesus sedang memberi contoh toleransi antara sesama umat manusia, saya posting foto ini dan ternyata langsung mendapat protes keras dari dua orang kristen di path saya.

Sebelum saya lanjutkan saya akan jelaskan, saya menulis ini bukan karena keras kepala dengan argumen saya, tetapi karena saya begitu terganggu dengan isi protes dari teman kristen saya yang luar biasa sempit, kemudian dibaca yang lainnya (dibaca begitu saja awalnya, mungkin tidak dipikir negatif). Meski hanya dua orang yang menyatakan protes, tapi saya menganggap ini penting karena terkait pola pikir ekstrim dan yang selalu saya anggap berbahaya. Sebelumnya saya mohon maaf jika menulis isu sensitif bagi kaum tertentu namun ijinkan saya menyampaikan pendapat saya.

Saya tidak bisa dikatakan kristen murni. Tepatnya, saya akui saya kristen KTP dan jauh dari suci. Saya dilahirkan kristen, identitas saya kristen, kemudian setelah saya dewasa (lulus kuliah, mulai kerja dan tidak bergantung orang tua lagi) saya memutuskan bahwa saya tidak akan memeluk agama apapun dan hanya melandaskan kepercayaan saya kepada Tuhan semata tanpa ada tetek bengek organisasi bernama agama, yang bagi saya sangat rumit dan ketika saya peluk, maka membuat saya selalu merasa umat saya paling benar. Ini saya putuskan bukan karena trend, pengaruh lingkungan, atau rasa ingin berbeda. Saya sudah begini dari sebelum banyak orang socmed membahas atheis, agnostic, dll. Teman saya terdekat rata-rata orang beragama, keluarga saya malah termasuk taat (saya satu-satunya yang dari kecil tidak bersedia ikut sunday school di gereja hingga orang tua saya menyerah dan nilai agama saya di rapot enam). Ya, kepercayaan saya mirip Agnostic tapi saya bukan benar-benar Agnostic. Jika Agnostic masih merasa perlu pembuktian eksistensi Tuhan ("tuhan mungkin ada") maka saya yakin 100% bahwa Tuhan itu ada. Namun pandangan saya dan kaum Agnostic seputar "agama" persis sama, bahwa apa yang ada dalam agama (histori dan ajaran) belum terbukti absolut benar dan manusia punya hak mempertanyakan satu dan lain hal seputar hal tersebut. Bagaimanapun, sejarah bisa ditulis oleh satu kepentingan dimasanya. Seperti penulisan sebagian biografi (saya sungkan mengatakan semua biografi), ada fakta yang dilebih-lebihkan yang kemudian diyakini bersama bahwa itu mutlak bagi orang yang tidak menjadi saksi langsung. Mutlak karena disampaikan orang yang mengalami atau saksi, meski mungkin isinya mengalami distorsi atau sebagian tafsir pribadi. However, saya juga bisa salah. Bisa jadi isi kitab memang benar. Tapi itu lah saya, kepercayaan mutlak hanya saya arahkan kepada Tuhan, bukan agama.

Jika saudara-saudara kristen membaca terlebih dahulu statement bahwa saya tidak bisa dikatakan murni kristen, kemudian membaca protes terhadap posting saya kemarin, barangkali sebagian dari Anda akan semarah dua orang yang protes posting gambar saya (seperti di atas) tanpa ba-bi-bu. Tapi saya akan bersikeras mengatakan apa yang saya lakukan saat itu bukan tindakan penghinaan. Anda bisa anggap itu penghinaan terhadap kristen jika saya tidak dilahirkan kristen. Itu pun hanya berhenti hingga "anggapan" yang akan saya (usaha) buktikan salah.

Saya diprotes. Lalu saya tanya kepada yang protes, "bagaimana mungkin gambar yang menunjukkan toleransi seperti itu diartikan saya sedang menghina kristen? KTP saya hingga detik ini kristen loh (cuma itu opsi yang disediakan pemerintah dalam KTP sih). Apa yang Anda anggap penghinaan? Bahasa betawi yang digunakan? Saya pikir Tuhan pasti berbicara dengan banyak bahasa. Atau gaya slank menggunakan kata 'bro' seakan Tuhan anak punk jalanan? Padahal saya diajarkan bahwa pendekatan Tuhan kepada manusia bisa dengan berbagai cara. Apa yang salah dari gambar ini, terlepas dari entah apapun niat sebenarnya dari yang membuat gambar?"

"Anda smart dikit dong, mempermalukan kristen, mana ada Tuhan minta maaf kepada manusia!" Begitu kira-kira yang disampaikan bapak yang protes gambar tersebut. Dia kemudian menambahkan bahwa dia sering ke gereja dan bahwa saya boleh ketemu dia di sebuah gereja dalam mal di bilangan Jakarta Selatan untuk bahas penghinaan saya. Saya lucu, kalau saya sedang di Jakarta, seratus persen saya bakalan datang ketemu ini orang dan mempersilahkan dia dan sebagian orang di gerejanya menghakimi saya. Seru dramanya pasti. Tapi saya bukan di Jakarta.

Saya justru mau berbalik menuduh bahwa dia yang sedang mempermalukan kristen dengan marah-marah, seperti... mengatakan saya tidak pake otak bahkan bahwa saya perempuan jahanam di ruang umum depan teman-teman saya (baik kristen maupun tidak). Saya sama sekali tidak memaki loh. Jawaban saya berkali-kali cuma agar dia jangan berpikir sempit, FYI. ITU malah yang saya anggap mempermalukan kristen.

Kata yang bersangkutan "mana ada Tuhan meminta maaf kepada manusia!" membuat saya selintas berpikir Tuhan saya Tuhan yang arogan. Lalu kemudian saya berpikir, mungkin bukan arogan. Orang tersebut berusaha menegaskan bahwa Tuhan itu agung dan maha benar, maka tidak mungkin bersalah dan minta maaf. Positive thinking saya sih seperti itu. Sayangnya justru dengan anggapan Tuhan itu tidak mungkin meminta maaf kepada siapapun (dalam kasus di foto kondisinya lebaran), SAYA YANG SANGAT KESAL. Itulah mengapa menulis ini di blog menjadi sedemikian penting untuk saya. Saya sungguh terganggu dengan pemikiran sempit orang, yang tidak memberi celah bagi kemungkinan baik lain, sehingga image orang yang baik akan sesuatu justru bisa tercoreng akibat sikap kelewat baku dan ekstrim seperti itu.

Saya boleh tidak memeluk agama. Tapi saya menyayangi Tuhan saya melebihin apapun. Konsep yang ada di otak saya adalah Tuhan itu milik bersama, dia hanya ada satu, milik semuanya, sayang semuanya, terlepas dari agama apapun...namun agama yang membuat dia seolah menjadi lebih dari satu atau dipersepsikan eksklusif antara satu kepercayaan dengan lainnya. Saya boleh tidak ke tempat ibadah, tetapi saya tidak pernah meragukan kasih Tuhan kepada saya. Saya boleh kerap mempertanyakan kebenaran isi kitab suci adalah suara Tuhan (atau buatan) tapi saya pantang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Jadi ajaran yang saya ambil disana dan saya percaya benar adalah kasih dan kebaikan.

Bagaimana Anda meminta maaf kepada orang? Anda bersalah, maka Anda meminta maaf. Namun apakah hanya rasa bersalah yang membuat orang meminta maaf? Kalau Anda jawab "iya", maka itu akan menggambarkan karakter Anda. Meminta maaf karena mengakui perbuatan salah adalah sikap yang besar. Meminta maaf karena menghindari konflik, ingin menciptakan suasana hangat dan rasa ingin mengalah asal orang di hadapannya bahagia.......itu adalah sikap mulia. Itu terjadi justru karena orang itu memiliki rasa sayang yang besar. Itu adalah kasih.

Meminta maaf tanpa melakukan kesalahan adalah bentuk pengorbanan dari kasih yang tulus. Itu adalah bentuk dari rasa takut kehilangan yang sangat besar karena disana ada harga diri atau pembenaran diri yang dibuang. Bukan sekedar memiliki arti, "saya salah, ampuni saya" tetapi bisa jauh lebih dalam dari itu dengan makna, "saya sedemikian mengasihi dirimu oleh karenanya siap untuk berkorban karenamu". Sikap Tuhan yang digambarkan agama kristen sikap penuh pengorbanan toh?

Tuhan maha benar. Tuhan tidak mungkin bersalah. Tetapi.... Tuhan menyampaikan kasihnya tanpa pandang bulu. Tanpa pilih kasih. Karena Tuhan tidak saja eksklusif milik orang Kristen, Tuhan milik semua orang, hanya dikisahkan dengan versi berbeda dari mata agama masing-masing. Jadi ketika dalam sebuah gambar dia diisyaratkan tengah ikut merayakan hari raya berbagai orang, itulah kasih Tuhan yang saya tahu. Itulah cara dia merangkul umatnya. Bahwa dalam gambar tersebut dia memakai gaya bahasa tidak formil, adalah pertanda bahwa Tuhan hadir dalam berbagai jaman, berbagai budaya, berbagai situasi dan lingkungan. Ia ada di tengah orang yang memujanya atau bahkan mereka yang tengah lupa akan kehadirannya, bahkan ada di dekat saya yang jahanam sekalipun.


Saya tidak tahu apa yang ada di benak orang yang menciptakan gambar tersebut. Mungkin memang niat negatif, mungkin malah membuat image Tuhan menjadi mudah dicerna anak jaman sekarang atau sekedar menggambar tanpa maksud. Jika orang kristen meyakini itu sebagai wajah Yesus, maka ingatlah, di Islam, nabi Isa (Yesus) juga ada. Saya tidak memandang gambar tersebut sebagai hal nista, karena pertama kali melihat gambar tersebut benak saya justru langsung mengatakan "God is so cool! Kalo Tuhan saja bisa digambarkan toleran, maka saya anakNya seharusnya ikut mencontoh". Cerita akan berbeda jika yang saya posting gambar penghujatan, maka saya kurang ajar. Tapi gambar itu malah saya anggap menarik untuk wilayah Indonesia yang menganut bhineka tunggal ika.

Meski demikian, jika tulisan saya ini tetap dipandang sebagai bentuk penghinaan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. MAAPIN ANE YAH BRO! Bagaimanapun, saya tahu benar, dimanapun di dunia, masih banyak yang menganggap isu agama adalah isu sensitif. Tapi ini era yang semakin maju, banyak orang open minded. Seharusnya orang gini semakin banyak untuk mengurangi sikap ekstrim beragama. Capek banget kalo semua ngerasa paling benar soal Tuhan trus diungkapin dengan nyolot ke orang lain.

Katakan saya sesat, atau murtad sekalipun. Kepercayaan saya hanyalah Tuhan Yang Maha Esa dan jika kebenaran diklaim milik setiap agama di dunia ini, maka saya tidak perlu menjadi benar.

Tuhan memberkati Anda.



~dc~




PS: Please jangan komentar "agama tidak salah, penganutnya yang salah" setelah postingan ini. Saya gak perlu jelasin kenapa.

PS: Benar postingan ini memang curhatan gw soal para biggot, tapi bukan minta pembelaan kok. Nyindir ekstrimis iya. 😅

Thursday, January 2, 2014

Welcoming 2014

Three days ago (31 Dec) was my birthday and NYE. Just like a normal person, i celebrated the day. I actually had this plan before, to celebrate the special day in Bali. But shits happened, so i had to stay here in Jakarta. I wasn't in a very good mood. I just broke up with boyfie (again) and another (real) shit happened (i'm not gonna write about it, pffft). I thought everything was gonna be alright on NYE, "people will go all out and blablabla", but surprisingly, my besties decided to spend the day with their fam or lovers (my fam not in Jakarta), my partygoers group however decided to spend the day at some mosque, doing tahajjud prayer and my crush (yes, i have a crush on someone - still not sure about this tho) lives in another country. And the rest, they did ask me out but i had some particular reasons not to come. So yeah, i was alone, feeling cranky and miserable. Well people gave me a lot of birthday presents but what i wanted was a fine party.

I made myself busy cleaning up my new apartment… but still, i felt empty and began to feel sorry for myself. I thought, "it's my fuckin' birthday, what am i doing here - in my apartment alone? 2014 is coming, and i don't wanna welcome the upcoming year feeling miserable. That's it, I need booze to cheer me up! I am a cheerful person, strong and a proven problem solver" (A study exploring the influence of alcohol on creative problem-solving suggests a small amount of booze could help you find some answers --- ok, you may laugh now). I raised my glass and suddenly someone that i just met somewhere (you can say... a stranger) sent me a message. I never really paid much attention to this guy before. Call me crazy, but i asked this guy to meet me at midnight and talk with me over a cup of coffee. He wasn't exactly in Jakarta but he agreed to meet me. Haha! Well, we all need to laugh and bring optimism for 2014, aight?

I did celebrate the NYE fuckn countdown alone. But just an hour or two after that, i talked with this guy in a cafe - we had random convo - and we laughed a lot. It was a good moment..something new in my life. And no, we didn't end up in bed or falling in love with each other (don't expect a stupid romantic story, I'm liking someone else and that moment i wasn't into something like that). He's a good person tho..

Anyway… how was your 2013? 2013 was a bad year for me. I'm definitely not gonna miss 2013. But i truly hope 2014 will treat me nice. I have a wish, a simple wish and i hope it will come true. I'm not gonna tell you what my wish is 'cause you're gonna laugh. Well, maybe you won't but my besties definitely will.


Again, people, have a very fucktastic year ahead and…..be nice. I know i will try to be nice.

Cheers!



















XOXO,



~ desyc ~

Sunday, December 22, 2013

22/12/13 - "destroyed"

World,


It's christmas time... and it's almost my birthday... but i'm not okay. Something went wrong. I'm not okay. And i'm tired of pretending that i'm okay. I've been strong for too long.

Just wake me up when it's all over. I'm scared.



~ A kiddo ~

Saturday, November 16, 2013

Mr. Nice Guy

Girls,

Mr. Nice Guy is not a myth. There is a handsome, tall, nice, polite & romantic guy on earth for you. And no, he's not married. He's not gay. He's not jobless. And he doesn't have a small, lazy dick plus STD. He's almost perfect.

This guy... He treated me like a princess. He looked me in the eyes and told me the sweetest things i've ever heard like, "you can go wherever you want, whenever you want and with whoever you want, but please just don't hurt my feelings, please respect me as your boyfriend" or "even if you lie to me, i will still believe whatever comes out of your mouth. Will always do" or funny-cute things like "yes, i really wanna touch you, but if you're not ready yet, i'll wait. Meanwhile, let's get out of this room and find a better place for me so i cannot think of it".

Yes, Mr. Nice Guy is not a myth. But 'me-bending-down-on-my-knees-for-a-man' is just a myth. I'm a coward. When things get serious, i run away. It's my default nature. And i'm not proud of it. In fact, i'm feeling sad at the moment.



PS: I dumped Mr. Nice Guy a month ago.



Tuesday, June 25, 2013

Dear "The Sad Little Girl"



Just wanna give you the cutest doll and the sweetest lollipop
Just wanna hold you tight
Just wanna wipe away all of your tears
Just wanna tell you,

"stop crying in your sleep... everything's gonna be alright...you're gonna be a pretty, smart and tough girl...and one day.... one day, you're not gonna be sad anymore."






*for a very special little girl*
:)

Matahari Pagi


Suatu saat kalian akan terbangun karena matahari yang menyeruak melalui jendela kamar kalian, lalu menyentuh wajah kalian yang tengah terlelap. Saat kalian membuka mata, mungkin ada 'pause' sejenak, karena mungkin beberapa dari kalian baru saja kehilangan kebahagiaan dalam hidup kalian, lalu kalian merasa beban hidup di pundak atau luka di hati membuat kalian teramat pilu untuk berjalan tegak dan beraktivitas.

Tapi..... matahari pagi terlalu indah untuk dilewatkan. Selalu terlalu indah.

Tidak apa-apa sesekali mengubur pilu hanya di tempat tersembunyi. Tidak apa-apa sesekali menutupi rasa lelah. Tidak apa-apa sesekali mengabaikan penghiburan.


Bangun, dan nikmatilah sinar matahari pagi. Karena meski selalu ada ujung hari dimana matahari terbenam dan kalian mulai kehilangan cahaya, ia akan selalu kembali di pagi hari.

Selalu kembali....






*untuk 'kamu' yang mengalami malam panjang*

Monday, June 10, 2013

Dialog Sampah?



[Read carefully the conversations written below]

CONVO I
A: "Gue pengen nyobain ML deh, tapi gue takut. Gue takut nantinya bakal suami gue nggak bisa nerima gue karena gue udah nggak perawan pas malam pertama."
B: "Lah, elo kok udah yakin kalau suami elo nolak elo kalau elo nggak perawan?"
A: "Well, kan pasti gue ntar dianggap cewek nggak bener.."
B: "Mungkin karena elo sendiri berpikir bahwa cewek yang udah nggak perawan sebelum pernikahan resmi itu nggak bener, jadinya elo takut orang berpikir sama seperti elo?"
A: "Yah...ini Indonesia kali. Semua pelaku free sex pasti dianggap nggak bener."
B: "Lebih tepatnya, semua yang menentang agama dianggap nggak benar. Agama jadi sumber hukum kita. Perkara kenti dan meki jadi sesuatu yang tabu dibicarakan. Pertukaran lendir pra nikah meski dilakukan dengan sadar oleh kedua belah pihak (dan seharusnya terhitung hak masing-masing orang yang sudah dewasa)selalu jadi dosa sosial - perkara negara - hukum negara. Padahal, seks itu 'nyaris' tidak merugikan orang banyak, jika dilakukan dengan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Jauh berbeda dari korupsi, penipuan, pemerkosaan, pengedaran obat terlarang, fitnah, dll."
A: "Well, kita bukan negara sebebas Amerika.."
B: "Dan seharusnya kita bukan negara agama. Meskipun begitu, gue ngehormatin keputusan orang untuk tidak melakukan hubungan seksual pra nikah, seharusnya begitu sebaliknya."
A: "Iya sih...gue takut tapi pengen nyobain. Pengen nyobain tapi takut."
B: "Ya, jangan dilakukan kalau nggak mau atau nggak siap mental. Eh, tapi gue mau nanya ama elo, seandainya suami elo nantinya ternyata nggak virgin, elo gimana?"
A: "Lah, tau cowok masih virgin atau nggak gimana?"
B: "Nggak, ini perkara prinsipil aja. Anggap aja elo tahu. Nah, kalau elo tahu dia nggak virgin, elo masih mau nerima?"
A: "Yah...kan kalau cowok mah beda. Kalau gue cinta mah gue terima-terima aja."
B: "Nah, seharusnya cowok juga berpikiran yang sama kan kalau memang cinta? Nggak mengukur dari keperawanan?"
A: "Tapi patokan cowok di Indonesia masih banyak yang gitu. Parahnya, cewek ketahuan kalau udah nggak perawan lagi, beda ama mereka."
B: "Well, for me, it's f*cking easy to dump a selfish-shallow-jerk dude like that, in fact, itu bahkan membantu untuk mengerti kadar cinta calon pasangan abadi elo. Kalau dia egois, well, jelas dia bukan orang yang layak untuk dinikahi. Tapi sekali lagi, itu semua pilihan. Jangan melakukan sesuatu hanya untuk terlihat keren, westernish, modern dan semacamnya. Baik pelaku free zex ataupun nggak harusnya sama-sama tidak saling memaksa orang untuk masuk kubu masing-masing. Karena sex jika dilakukan dua pihak dengan kesadaran penuh, tidak seharusnya masuk perkara kriminal."
-----JEDA-----
B: "Well, gue selalu bertanya-tanya, jika seks dilakukan dengan aman antara dua orang yang cukup umur, tidak terikat dengan pasangan lain, tanpa paksaan, tanpa kekerasan dengan tidak melibatkan orang lain di tempat pribadi milik mereka sendiri.......apa yang membuat orang berteriak keras menentang itu?"
A: "Tuhan dan agama?"
B: "Bukti bahwa penghakiman agama lebih banyak dilakukan oleh manusia dibanding Tuhan sendiri. :)"



CONVO II
C: "Elo kenapa nggak cepat merit?"
D: "Belum siap mental."
C: "Nggak takut nanti semakin tua kasian anak elo? Ntar elo umur 40, anak elo baru 3 tahun?"
D: "Soal anak, tabungan masa depan anak bisa disiapkan sejak dini sebelum menikah. Soal adaptasi dengan gaya pemikiran anak, tergantung seberapa cerdas elo menerima dan memahami sesuatu. Bukan karena batas usia. Lagipula, bisa saja justru orang-orang yang tidak cepat menikah itu pecinta anak-anak dan lebih bijaksana toh?"
C: "Sorry, tapi seandainya elo meninggal saat anak elo masih kecil karena telat menikah?"
D: "Itu bisa terjadi kapanpun dengan siapapun. Lagipula, ini masalah cara mengajarkan anak untuk tetap optimis ke depan. Sekali lagi, tidak terkait umur."
C: "Kesannya egois bukan? Kan kasihan anak?"
D: "Loh, kalau elo menikah cepat, tidak benar-benar merasa siap dan hubungan elo ternyata nggak langgeng, resiko soal anak juga tetap ada toh?"
C: "Tapi kan juga bisa lebih cepat jadi bahan pelajaran dan lebih banyak waktu untuk dikoreksi dibanding yang menikah tua."
D: "Actually, bagaimana menyiapkan masa depan anak, bersosialisasi dengan anak dan membentuk karakter anak serta membina hubungan yang baik dengan suami tidak harus dilakukan berdasarkan batasan umur. Tetapi lebih kepada kesiapan batiniah dan....balik lagi ke kecerdasan. Sayangnya di Indonesia dan beberapa negara lainnya, pernikahan menjadi syarat komunitas, gengsi sosial, lambang kedewasaan. Jika tidak dilakukan secepatnya, maka konsekuensi dianggap tidak laku dan tuduhan-tuduhan lainnya menjadi muncul. Itu makanya banyak orang kita yang memilih cepat menikah untuk mendapat penerimaan sosial dan aktualisasi diri. Karena sudah tradisi jaman dulu, terbawa jadi seolah syarat mutlak dalam kisaran umur tertentu. Takut jika tidak menikah cepat, tidak sesuai dengan standar 'normal' masyarakat. Padahal, standarnya sendiri sudah salah."
C: "Maksudnya standar umur?"
D: "Lebih tepatnya, standar menikah karena batasan umur."
C: "Tapi kan nggak semua menikah karena gengsi sosial?"
D: "Memang nggak semua, tapi banyak yang begitu dan mungkin mereka sendiri nggak sadar kalau sebenarnya mereka memberi patokan menikah cepat karena sekedar gengsi sosial."



CONVO III
E: "F kalau sudah besar nanti mau jadi apa?"
F: "F mau jadi doktel!"
E: "Kalau G?"
G: "G juga mau jadi doktel"
H: "Kalau H mau jadi pengusaha dong, bial kaya!"
F: "F juga kalau nggak jadi doktel maunya jadi olang kaya kok!"
E (memandang ke rekan sesama guru, I, kemudian berbisik di telinga I): "Sadar nggak kalau hampir semua anak kecil di Indonesia bercita-cita menjadi dokter atau pengusaha? Sepertinya ini cita-cita wajib semua anak kecil disini yah? Apa orang tua mereka nggak memberi informasi bahwa ada banyak profesi terhormat di dunia untuk dicita-citakan?"
I: "Well, mungkin karena anak kecil belum menemukan jati diri sendiri, jadi belum benar-benar tahu mau jadi apa."
E: "Jadi kenapa mereka serempak mau jadi dokter atau pengusaha? Ini dua profesi yang paling beken sejak bayi lahir kayaknya yah? Penanaman ambisi orang tua sejak dini atau memang sekedar trend anak kecil?"
I dan E: "hahahahaha..."



CONVO IV
J: "Lo ntar kuliah mau ngambil apa?"
K: "Belum tau nih masih bingung.."
L: "Gue mau ambil yang nggak terlalu susah aja ah, mungkin sastra. Kalau yang lain takut otak gue nggak sanggup. Kalau sastra kan setidaknya nggak bakal sesusah teknik atau lain-lainnya."
K: "Gue ikutan elo aja deh L, biar kita bisa se-gank lagi. Biar rame-rame lagi, ya nggak J?"
J: "Uhmm, gue sih bakalan ambil hukum."
K: "Lah, elo pisah dong dari kita berdua? Yaahhh.."
L: "Elo nggak takut hukum harus hapalin banyak peraturan? Kan ribet?"
J: "Well, gue nggak takut karena itu emang keinginan gue. Lagipula, gue emang pengen jadi pengacara."
L (senyum): "Elo emang keren yah J, beda ama gue, K dan jutaan anak Indonesia lainnya yang bahkan ampe udah kuliah pun belum bisa nentuin tujuan hidup atau cita-cita. Jadi nggak ada ambisi. Nggak ada totalitas. Nggak ada tekad sejak dini."
K: "Iya, J sih keren. Kalau kayak kita-kita sih....jangan-jangan ntar soal pemilihan mata kuliah aja masih berdasarkan dosen mana yang baik atau jahat, pelit nilai atau nggak, atau....mata kuliahnya sulit atau nggak."
J, K & L: "hahahahahaha, Indonesia....Indonesia..."




CONVO V
M: "Eh, ada si N tuh lewat kecengan elo!"
O (bergegas mematikan puntung rokok): "Mati gue! Si N lihat nggak tadi gue ngerokok?"
M: "Kalau ngelihat kenapa emang?"
O: "Gue nggak mau kelihatan bandel aja di depan mata dia. Sh*t, mana gue lagi pake tank top doang lagi!"
M: "Lah, kan elo emang ngerokok dan berpenampilan terbuka, masa elo mau pura-pura jadi alim mendadak depan mata dia?"
O: "Yah, gw pengen dia berpikir gue itu cewek banget."
M: "Astaga, ini penyakit cewek-cewek Indonesia. Takut terlihat buruk dan lebih memilih untuk terlihat kayak si bawang putih dalam sinetron-sinetron. Padahal banyak juga yang hobi gosip ampe ngata-ngatain orang, nelikung, nusuk dari belakang, di depan lain di belakang lain, aslinya nyinyir dan lain-lain... Berani tampilin yang buruk-buruknya kek!"
O: "Cck! Diem lo! Namanya juga cewek!"



CONVO VI
P: "Jadi orang tuh simple aja deh kayak gue!"
Q: "Maksud elo simple?"
P: "Yah, gue sih males menanggapi sesuatu dengan rumit-rumit. Dari mulai penampilan sampai gaya berpikir gue itu simple. Ngapain segalanya dibawa pusing? Semuanya bisa dibawa sederhana kok."
Q: "Simplicity bores me to death.."
P: "Lah, lo kok aneh gak suka yang simple-simple?"
Q: "Karena orang simple itu membosankan. Cuma suka yang mudah-mudah. Kalau dalam soal strategi, bisa ditebak langkahnya dengan mudah. Kalau dalam soal pemikiran, bisa ditebak prinsipnya gitu-gitu aja. Kalau dalam soal cinta, bukan seseorang yang bisa membuat benar-benar penasaran. Dan mungkin orang simple menjadi simple karena nggak suka tantangan rumit, jadi berkembang di lingkungan juga yang mikir gampang-gampang aja.."
P: "Dengan kata lain, elo menggambarkan orang yang mencitrakan diri simple sebagai orang gak cerdas-cerdas banget? Gitu maksud elo hah?!"
Q: "Gak sih, cuman.....bukan seperti sebuah misteri yang perlu dipecahkan. Tapi yah mungkin ini gue sih...karena gua anggap misteri itu indah dan gaya berpikir rumit itu membawa orang untuk bisa berpikir lebih luas. Well...tapi yah untuk menghadapi orang simple kita nggak butuh banyak tenaga, hadapin juga dengan simple. Kalau orang rumit, baru pakai strategi.Well, tapi banyak juga sih hal-hal yang bisa diselesaikan dengan cara-cara simple."
P: "Yang gue tangkap, bagi elo orang simple itu nggak keren?!"
Q: "Bukan, tapi nggak istimewa..well, ya itu tadi, membosankan. Hehehe.."




*bersambung*